Mengenal Fonologi Bahasa Indonesia

Fonologi Bahasa Indonesia


Belajar Daring - Mengenal Fonologi Bahasa Indonesia adalah tema pembahasan kali ini yang akan Admin bagikan kepada Anda.

Mengenal Fonologi Bahasa Indonesia akan dimulai dari pengertian, penggolongan, unsur-unsur, bunyi yang saling mempengaruhi, dan perbedaan pengucapan.

Secara fonetis (Samsuri, 1967:4) bahasa yang dapat dianggap sebagai kontinum bunyi dapat dipelajari secara teoritis dengan 3 (tiga) jalan, yaitu sebagai berikut: 

  • Pertama, bagaiinana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat-alat ucap. 
  • Kedua, bagaimana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan/atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombang-gelombang bunyi di udara. 
  • Ketiga, bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan syaraf si pendengar.

Mengenal Bunyi Bahasa

Pengertian Bunyi Bahasa

Manusia berkomunikasi melalui bahasan dengan cara tertulis dan lisan. 

Komunikasi yang dilakukan dengan tulisan tidak melibatkan alat bicara manusia. 

Sebaliknya, komunikasi yang dilakukan ecara lisan melibatkan alat bicara manusia. 

Alat bicara manusia membentuk bunti bahasa yang digunakan dalam komunikasi lisan. 

Bunyi bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat bicara manusia. 

Jadi, fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. 

Bunyi bahasa terjadi jika udara mengalami hambatan pada alat bicara manusia.

Unsur-Unsur Terjadinya Bunyi Bahasa

Bunyi bahasa tidak terjadi dengan sendirinya. Untuk menghasilkan bunyi bahasa diperlukan unsur-unsur tertentu. 

Adapun unsur-unsur terjadinya bunyi bahasa adalah sebagai berikut: 

1. Udara

Udara berfungsi sebagai sumber atau materi yang dibentuk menjadi bunyi bahasa.

2. Articulator

Articulator adalah alat yang dapat digerakkan untuk membentuk bunyi bahasa, misalnya bibir bawah, gigi bawah, dan lidah. Articulator disebut juga articulator aktif.

3. Titik artikulasi dan daerah artikulasi

Titik artikulasi merupakan alat pembentuk bunyi yang disentuh oleh articulator, misalnya, bibir atas, gigi atas, langit-langit, rongga mulut, dan rongga hidung. 

Titik artikulasi disebut juga articulator pasif. Daerah artikulasi adalah tempat atau daerah pertemuan antara articulator dan titk artikulasi sehingga menimbulkan atau membentuk bunyi bahasa.

Terjadinya Bunyi

Sumber energi utama bunyi bahasa adalah udara dan paru-paru. 

Udara dihisap ke dalam paru-paru dan dihembuskan keluar bersama-sama saat bernapas. 

Udara yang dihembuskan tersebut mendapat hambatan pada alat bicara sehingga terjadinya bunyi. 

Alat bicara yang dilewati udara antara lain, batang tenggorokan, pangkal tenggorakan, kerongkongan, rongga mulut, atau rongga hidung bersama alat yang bicara yang lain.

Penggolongan Bunyi Bahasa

Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas vokal, konsonan, dan semivokal. 

Perbedaan antara vocal dan konsonan didasarkan pada ada atau tidaknya hambatan (proses artikulas) pada alat bicara. 

Agar lebih jelas perhatikan penjelasan berikut:

Vokal

  • Bunyi yang tidak disertai dengan hambatan pada alat bicara. Hambatan hanya terdapat pada pita suara.
  • Tidak terdapat artikulasi.
  • Semua vokal dihasilkan dengan bergetarnya pita suara. Dengan demikian, semua vokal adalah bunyi suara.

Konsonan 

  • Bunyi yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara.
  • Terdapat artikulasi
  • Konsonan bersuara adalah konsonan yang dihasilkan dengan bergetarnya pita suara. Konsonan tidak bersuara adalah konsonan yang dihasilkan tanpa bergetarnya pita suara.

Bunyi Bahasa Itu Saling mempengaruhi

Bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat bicara manusia akan bergabung dan membentuk kata atau kalimat. Kata atau kalimat yang dibentuk dan bunyi bahasa akan diucapkan bersama-sama. 

Bunyi-bunyi yang diucapkan bersama-sama saling mempengaruhi satu dengan yang lain. 

Adanya pengaruh bunyi bahasa satu terhadap bunyi bahasa yang lain menimbulkan beberapa peristiwa bahasa. 

Adapun macam-macam peristiwa bahasa adalah sebagai berikut:

Bunyi Antara

Bunyi antara dapat dibedakan menjadi dua bunyi, yaitu bunyi [ w ] dan [ y ]. Bunyi [ w ] timbul jika bunyi fonem / u /, / au /, atau / o / bertemu dengan fonem / a /, / e /, / i /, / au /, dan / ai /.

Contoh: 

Dua [ d u w a ]

Kue [ k u w e ]

Duit [ d u w i t ]

Gurauan [ g u r aw w a n ]

Menduai [ m e n d u w a I ]

Bunyi [ y ] timbul jika bunyi fonem / i /, / ai /, atau / e / bertemu dengan fonem / a /, / u /, / i /, / o /, / au /, dan / ai /.

Contoh: 

Mengeong [ m e ŋ e y o ŋ ]

Pakaian [ p a k a i y a n ]

Pujian [ p u j i y a n ]

Asimilasi 

Asimilasi merupakan pengaruh bunyi yang satu terhadap bunyi yang lain. 

Asimilasi dibagi menjadi 2 (dua), yaitu asimilasi suara dan asimilasi tempat.

1. Asimilasi suara

Asimilasi suara terjadi bila konsonan yang mula-mula merupakan konsonan bersuara menjadi konsonan tak bersuara atau sebaliknya karena terpengaruh konsonan yang mendahului atau mengikutinya.

Contoh: 

Kitab  [ k i t a b ] seakan-akan menjadi [ k i t a p ]

Bunyi b  seakan-akan menjadi p  karena terpengaruh t.

Sabtu  [ s a b t u ] seakan-akan menjadi [ s a p t u ]

Bunyi b  seakan-akan menjadi p  karena terpengaruh t.

Kedondong [ k ǝ d ə n d ə ŋ ] seakan-akan menjadi [ g ə d ə n d ə ŋ ]

Bunyi k  seakan-akan menjadi g  karena terpengaru d.

2. Asimilasi Tempat

Asimilasi tempat terbagi jika dasar pengucapan bunyi berpindah karena terpengaruh bunyi yang mendahului atau mengikutinya.

Contoh:

Me + garis menjadi menggaris

[ m ǝ ] + [ g a r i s ] > [ m ǝ ŋ g a r i s ]

Me + bantah menjadi membantah

[ m ǝ ] + [ b a n t a h ] > [ m e m b a n t a h ]

Me + tangkap menjadi menangkap

[ m ǝ ] + [ t a ŋ k a p ] > [ m ǝ n a ŋ k a p ]

Disimilasi

Disimilasi adalah perubahan bunyi yang terjadi jika dua bunyi yang sama berubah menjadi tidak sama. 

Misalnya, pasangan [ r ] dan [ r ] dihindarkan dan menjadi [ l ].

Contoh: 

Terlantar  [ t ǝ r l a n t a r ]  menjadi terlantar  [ t ǝ l a n t a r ]

Berkerja  [ b ǝ r k e r j a ]  menjadi bekerja  [ b ǝ k e r j a ]

Berajar  [ b ǝ r a j a r ]  menjadi belajar  [ b ǝ l a j a r ]

Swarabakti

Adanya bunyi [ ǝ ] yang tersisip di antara dua konsonan dalam satu suku kata.

Contoh: 

Putra  [ p u t r a ]  menjadi Putera  [ p u t ǝ r a ]

Sumatra  [ s u m a t r a ]  menjadi sumatera  [ s u m a t ǝ r a ]

Perbedaan Pengucapan

Pengucapan bunyi bahasa setiap orang kadang-kadang berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor. 

Adapun faktor- faktor perbedaan tersebut akan dijelaskan di bawah ini:

Pengaruh Bahasa Daerah

Indonesia memiliki wilayah yang luas dan berbagai pulau. Pulau-pulau tersebut memiliki bermacam-macam bahasa daerah. 

Bahasa-bahasa daerah tersebut memiliki pengucapan yang berbeda. Pengucapan bahasa daerah berpengaruh pada pengucapan bahasa Indonesia. 

Pengaruh ucapan bahasa daerah terhadap pengucapan Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Penambahan bunyi n  di depan bunyi d yang biasa digunakan penutur bahasa Jawa untuk menuturkan bahasa Indonesia.

Contoh: 

[ d  ǝ  l a ŋ g u ]  diucapkan  [ n d ǝ l a ŋ g u ]

[ d e s a ]  diucapkan  [ n d e s ͻ ]

Penambahan bunyi  m  di depan bunyi b yang biasa digunakan penutur bahasa Jawa untuk menuturkan bahasa Indonesia.

Contoh: 

[ b a l I ]  diucapkan  [ m b a l i ]

[ b o g o r ]  diucapkan  [ m b ͻ g ͻ r ]

Keadaan Alat Bicara yang Berbeda

Alat bicara yang dimiliki manusia masing-masing berbeda-beda. 

Keadaan alat bicara manusia yang berbeda-beda ini menyebabkan pengucapan bunyi yang berbeda pula. 

Misalnya, beberapa orang yang lidahnya pendek tentu akan kesulitan mengucapkan bunyi [ r ]. 

Kurangnya Pengetahuan Ilmu Bahasa

Orang yang kurang memiliki pengetahuan ilmu bahasa akan mengucapkan bunyi bahasa sekehendak sendiri. 

Tanpa disadari orang-orang tersebut memberi contoh pengucapan aksen atau susunan kata bahasa Indonesia yang kurang tepat.

Demikianlah pembahasan tentang Mengenal Fonologi Bahasa Indonesia yang dapat Admin bagikan kepada Anda, semoga bermanfaat.

Terima Kasih.

Selamat Belajar Daring.

Posting Komentar untuk "Mengenal Fonologi Bahasa Indonesia"