Mengenal 7 Jenis Vaksin yang Digunakan Saat ini

Jenis-Jenis Vaksin


Belajar Daring - Pada kesempatan kali ini Admin akan membagikan informasi tentang Mengenal 7 Jenis Vaksin yang Digunakan Saat ini untuk Anda semua sebagai pengunjung blog ini.

Setelah Mengenal 7 Jenis Vaksin yang Digunakan Saat ini, semoga Anda akan mendapatkan beberapa wawasan tambahan terkait dalam bidang kesehatan.

Ada beberapa jenis vaksin di dunia ini akan tetapi Admin hanya akan membagikan informasinya 7 (tujuh) jenis saja. 

Namun, apapun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit. 

Berikut di bawah ini adalah 7 (tujuh) jenis vaksin yang tercipta dari dahulu kala hingga sekarang:

Live Attenuated Vaccine (Vaksin Hidup Dilemahkan)

Vaksin hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang-ulang, namun masih mampu menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alamiah.

Vaksin hidup yang dilemahkan dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap virus dan bakteri. 

Vaksin ini mengandung virus atau bakteri yang hidup namun telah dilemahkan, sehingga tidak menyebabkan penyakit serius pada orang sehat dengan sistem kekebalan tubuh yang normal. 

Karena vaksin hidup yang dilemahkan adalah jenis vaksin yang paling menyerupai infeksi alami, vaksin hidup merupakan guru yang terbaik untuk sistem kekebalan tubuh.

Adapun sifat vaksin live attenuated vaccine yaitu sebagai berikut:

  • Vaksin dapat tumbuh dan berkembang biak sampai menimbulkan respon imun sehingga diberikan dalam bentuk dosis kecil antigen.
  • Respon imun yang diberikan mirip dengan infeksi alamiah, tidak perlu dosis berganda.
  • Dipengaruhi oleh sirkulasi kekebalan tubuh sehingga ada efek netralisasi jika waktu pemberiannya tidak tepat.
  • Vaksin virus hidup dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik.
  • Dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah.
  • Mempunyai kemampuan proteksi jangka panjang dengan keefektifan mencapai 95%.
  • Virus yang telah dilemahkan dapat bereplikasi di dalam tubuh, meningkatkan dosis asli dan berperan sebagai imunisasi ulangan.

Contoh-contoh vaksin hidup yang dilemahkan termasuk vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR), vaksin varisela (cacar air), vaksin tifoid (tipes; sudah tidak lazim digunakan), Vaksin Polio (Sabin), dan Vaksin TBC. 

Meskipun sangat efektif, namun risiko efek samping juga lebih tinggi sehingga tidak semua orang dapat menerima vaksin ini. 

Pasien dengan gangguan kekebalan tubuh — misalnya, mereka yang menjalani kemoterapi — tidak boleh diberikan vaksin ini.

Inactivated Vaccine (Vaksin Mati/ Killed)

Vaksin dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau virus atau toksoidnya saja. 

Vaksin mati dapat juga digunakan sebagai perlindungan dari virus dan bakteri. Vaksin jenis dibuat dengan melumpuhkan, atau mematikan kuman dalam proses pembuatannya.

Cara vaksin mati merangsang tubuh untuk memproduksi antibodi sedikit berbeda dengan vaksin hidup. 

Seringkali, dibutuhkan beberapa dosis untuk mencapai kadar perlindungan yang memadai dan stabil.

Adapun sifat vaksin inactivated vaccine adalah sebagai berikut:

  • Vaksin tidak dapat hidup sehingga seluruh dosis antigen dapat dimasukkan dalam bentuk antigen.
  • Respon imun yang timbul sebagian besar adalah humoral dan hanya sedikit atau tidak menimbulkan imunitas seluler.
  • Titer antibodi dapat menurun setelah beberapa waktu sehingga diperlukan dosis ulangan, dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif tetapi hanya memacu dan menyiapkan sistem imun, respon imunprotektif baru muncul setelah dosis kedua dan ketiga.
  • Tidak dipengaruhi oleh sirkulasi kekebalan tubuh.
  • Vaksin tidak dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik.
  • Tidak dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah.

Contoh-contoh dari vaksin mati adalah Vaksin Rabies, Vaksin Influenza, Vaksin Polio (Salk), Vaksin Pneumonia Pneumokokal, Vaksin Kolera, dan Vaksin Pertusis.

Vaksin Toksoid

Vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah.

Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman.

Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid yang mampu merangsang terbentuknya antibodi antitoksin.

Imunisasi bakteri toksoid efektif selama satu tahun.

Bahan tambahan digunakan untuk memperlambat rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya.

Vaksin toksoid hanya digunakan sebagai perlindungan terhadap bakteri jenis tertentu yang menghasilkan toksin (racun) dalam tubuh. 

Pada proses pembuatannya, konsentrasi racun tersebut dilemahkan/ diencerkan hingga mencapai kadar yang imunogenik (dapat merangsang imun) namun tidak patogenik (menyebabkan penyakit). 

Ketika tubuh menerima vaksin jenis toksoid, sistem kekebalan tubuh belajar cara melawan racun alami. 

Vaksin TdaP mengandung toksoid difteri dan tetanus.

Contoh vaksin toksoid adalah Vaksin Difteri dan Tetanus

Vaksin Acellular dan Subunit

Vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe.

Vaksin subunit menggunakan potongan dari tubuh bakteri yang dapat merangsang pembentukan kekebalan paling baik. 

Karena jenis vaksin subunit hanya mengandung antigen yang penting saja, efek samping lebih jarang terjadi. 

Komponen pertussis pada Vaksin TdaP merupakan contoh vaksin subunit.

Vaksin Td TdaP (Tetanus, Difteri, Pertussis).

Contoh vaksin Acellular dan Subunit adalah Vaksin Hepatitis B, Vaksin Hemofilus Influenza tipe b (Hib) dan Vaksin Influenza.

Vaksin Rekombinan

Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar. Gen virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. 

Sistem ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. 

Teknologi DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom (informasi genetik) dari virus vaksinia dan imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik.

Vaksin Rekombinan sedikit mirip dengan vaksin subunit di mana hanya sebagian dari potongan DNA virus yang digunakan, dan dikembangkan dengan menggabungkan DNA organisme lain seperti ragi (jamur), melalui teknologi rekayasa genetika. 

Contoh vaksin rekombinan adalah vaksin Hepatitis B dan vaksin HPV.

Vaksin Idiotipe (Konjugat)

Vaksin yang dibuat berdasarkan sifat bahwa Fab (fragment antigen binding) dari antibodi yang dihasilkan oleh tiap klon sel B mengandung asam amino yang disebut sebagai idiotipe atau determinan idiotipe yang dapat bertindak sebagai antigen.

Vaksin ini dapat menghambat pertumbuhan virus melalui netralisasai dan pemblokiran terhadap reseptor pre sel B.

Vaksin konjugat melawan berbagai jenis bakteri. 

Bakteri ini memiliki antigen dengan lapisan luar zat seperti gula yang disebut polisakarida. 

Jenis pelapisan ini menyamarkan antigen, membuatnya sulit bagi sistem kekebalan tubuh anak yang belum dewasa untuk mengenalinya dan meresponsnya. 

Vaksin konjugasi efektif untuk bakteri jenis ini karena mereka menghubungkan (atau mengonjugasikan) polisakarida ke antigen yang direspon dengan sangat baik oleh sistem kekebalan tubuh. 

Keterkaitan ini membantu sistem kekebalan yang belum matang bereaksi terhadap pelapisan dan mengembangkan respons kekebalan. 

Contoh dari jenis vaksin ini adalah vaksin Haemophilus influenzae tipe B (Hib).

Vaksin DNA (Plasmid DNA Vaccines)

Dalam vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon ke dalam suatu plasmid bakteri yang direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan ke dalam sel mamalia. 

Setelah disuntikkan DNA plasmidakan menetap dalam nukleus sebagai episom, tidak berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom), selanjutnya mensintesis antigen yang dikodenya.

Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida yang bersifat imunostimulan yang akan menginduksi imunitas seluler. 

Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian.

Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan.

Demikianlah pembahasan mengenai Mengenal 7 Jenis Vaksin yang Digunakan Saat ini pada tema artikel kali ini yang Admin bagikan, semoga dapat bermanfaat.

Terima Kasih.

Selamat Belajar Daring.

Posting Komentar untuk "Mengenal 7 Jenis Vaksin yang Digunakan Saat ini"